Tokoh Penemu Bunga Raflesia Arnoldi - Biodata Tokoh- Tokoh Dunia
Selasa, 14 Mei 2013


Sebagian dari masyarakat Bengkulu mungkin menyayangkan bahwa bunga bangkai terbesar kebanggaan Provinsi Bengkulu bernama Rafflesia. Mengapa tidak diberi nama seperti layaknya nama asli Bengkulu. Mengapa pula harus Sir Stamford Raffles dan ahli botani Arnoldi penemunya. Sebagian orang berpikir, jika saja bunga ini dikenal dengan nama asli Bengkulu tentu akan berbeda imbasnya. Sehingga ketika bunga ini dikenal dunia, Bengkulu akan makin dikenal juga. Berikut ini, sebuah berita yang dikutip dari Radar Bengkulu tentang nama Rafflesia.
Mendokumentasikan kebanggaan dalam bingkai nama besar nilai sejarah dari nama penjajah sepertinya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bengkulu dalam memberikan nama, gelar, maupun simbol bagi berbagai segi. Seperti nama Rafflesia terkesan lebih identik dengan kebanggaan masyarakat Bengkulu terhadap nama penjajah dari bangsa Inggris, benarkah demikian?
Nama besar Bunga Rafflesia sebagai simbol bagi Provinsi Bengkulu hingga kini masih melekat di hati masyarakat Indonesia. Sebagai rasa bangga dan hormat kepada penemu sekaligus pencetus nama bunga tersebut, nama Sir Thomas Stamford Bingley Raffles selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda atau pernah menjabat sebagai Gubernur Sumatera pada 1800-an diabadikan menjadi nama bunga padma raksasa tersebut. Lantas, nama tersebut kian diagungkan oleh masyarakat Bengkulu, karena bunga Rafflesia merupakan khas tanaman Bengkulu dan merupakan tumbuhan langka. Karena bentuk dan ukurannya. “Bukan bangga dengan kebesaran terhadap nama penjajah, namun bangga atas kecirikhasan Bengkulu terhadap Bunga Rafflesia yang hanya ada di Bengkulu,” ujar tokoh Masyarakat Bengkulu, Prof. Drs. KH Djamaan Nur kepada RBI Kamis (28/6/2012).
Diceritakan Djamaan Nur, penamaan bunga raksasa ini tidak terlepas oleh sejarah penemuannya pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Sumatera. Seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Sedangkan Joseph Arnold sendiri saat itu tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Bingley Raffles. Jadi penamaan bunga Rafflesia Arnoldii didasarkan dari gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga.
Disisi lain, terdapat sumber sejarah yang menyebutkan bahwa nama Rafflesia Arnoldi, merupakan sebuah nama dari Sejarah bunga Rafflesia Arnoldi. Penemuan bunga raksasa Rafflesia pada tahun 1930 di daerah Ulu Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan oleh seorang ahli biologi dari belanda telah membawa nama harum bagi daerah yang mempunyai habitat Raflesia, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Inggris ketika berada di Bengkulu.
Akhirnya, penemuan tersebut dipatenkan atas nama penemuannya, Arnoldi dan kemudian hari bunga raksasa itu lebih dikenal dengan nama Rafflesia Arnoldi. Penemuan pertama bunga tersebut di Bengkulu, setelah kemudian ditemukan bunga yang sama di daerah Palupuh di Nagari Koto Rantang Kecamatan Palupuh, Provinsi Sumatera Barat. “Terlepas dari itu, Rafflesia menjadi simbol Bengkulu. Sehingga acap kali dijadikan ciri khas dari Bengkulu,” ujar Djamaan Nur.
Pemakaian nama ketokohan bagi sebuah nilai sejarah acap kali digunakan setelah figur tersebut memiliki nilai ketokohan yang disesuaikan dengan profesi dan jabatan. Dan hal itu sudah diakui oleh kalangan masyarakat tentang kebesaran nama ketokohan dan dalam sejarahnya nilai ketokohannya tidaklah tercoreng. “Lantas apakah salah jika kita menggunakan nama ketokohan yang memiliki nilai sejarah sebagai bentuk penghargaan atas ketokohan, maupun mengabadikan dari nilai sejarah? Tentunya tidak,” ujar Djaman nur.
Terpisah, dosen Universitas Bengkulu yang juga ketua ikatan sejarawan Bengkulu, Agus Setiyanto, M.Hum mengatakan, kebesaran nama Rafflesia yang sering digunakan masyarakat Bengkulu bukanlah dilihat dari aspek yang memunculkan ketokohan Stamford Raffles yang dikatakan selaku penemu bunga tersebut. Hal ini ditandai dengan nama, simbol dan gambar yang dipakai masyarakat, lembaga maupun instansi dengan bentuk bunga Rafflesia. Sehingga gambar bentuk bunga Raflesia dijadikan ikon Bengkulu. “Dalam tataran nilai sejarah, nama Raffles tidak dilihat dari aktor penjajah, melainkan sebagai sosok seorang humanis dan pecinta lingkungan,” ujar Agus.
Hal itu ditandai dengan sebuah buku karangan istri Raffles yang berjudul “Memoar Sir Stamford Raffles” yang menceritakan jika kepribadian Raffles selain seorang ekspedisi juga hobby terhadap flora dan fauna serta melestarikan alam. Di Bengkulu sendiri, nama besar ketokohan dari kalangan pejuang, pelaku sejarah sangatlah banyak. Dan pemakaian nama besar tersebut telah banyak digunakan dalam beberapa nama sebagai bentuk penghargaan. Sebut saja ketokohan Putri Gading Cempaka, Ratu Samban, Pangeran Natadirja, Balai Buntar, Prof. Hazairin, Fatmawati dan beberapa nama besar lainnya. Nama-nama tersebut telah digunakan sesuai dengan profesi dan latar belakangnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Google | Yahoo | Bing|Fullseoblog